Monthly Archives: January 2016

this is why I hate Microsoft product

View on Path


Bela Negara

coba cek artikel bulan oktober 2015 lalu dari Tempo disini. ada 4 poin bela negara: pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar wajib militer, menjadi TNI dan pelatihan sesuai profesi masing-masing.

kita urut bahasannya: menjadi TNI, pendidikan kewarganegaraan, wajib militer baru terakhir kita bahas pelatihan sesuai profesi.

Jika ada yang berminat bergabung dengan TNI sudah jelas itu merupakan komitmen terbaik untuk membela negara. salam hormat untuk kalian para garada depan negara ini.

Bicara soal pendidikan dan bela negara, sepertinya perlu ada revisi khusus mengenai kebangsaan ini dalam kurikulum kita. sebagai bangsa kita ini sangat besar, untuk itu seluruh development memang sebaiknya melalui musyawarah. hanya saja konsepnya harus lebih jelas. jangan musyawarah 2 arah seperti yang diajarkan di era 70-80an. tapi lebih ke tri party development antara regulator, businesses dan kelompok masyarakat madani/civil society organization. ini lebih memungkinkan untuk memperkuat negara dari dalam. pembangunan berkelanjutan yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. inilah the real Bhineka Tunggal Ika.

Sebetulnya ini masih pro-kontra, tapi jika dilihat dari besarnya negara ini, majemuknya budaya masyarakat, beragamnya tingkat pendidikan. sangat logis jika sejak dini, pendidikan sudah diwarnai dengan nafas militer. urusannya bukan fisik tapi lebih ke mental. mentalnya pun bukan mental militan. tapi mental berani mengambil resiko dan berani bertanggung jawab jika salah. hari ini terlalu banyak orang Indonesia yang gak bisa terima kalo mereka salah. more importantly, terlalu banyak orang Indonesia yang menganggap perjuangan adalah fisik. sehingga banyak sekali orang menganggap bahwa kalo ada yang salah harus dihukum secara fisik. padahal lihat politik diluar negri semuanya contextual. mereka bisa mebedakan mana lawan mana musuh.

‘pelatihan sesuai profesi’ ini yang sebetulnya menarik. sebetulnya sederhana tapi jika kita lihat impactnya luar biasa.

ceritanya gini, jika kita mengunjungi Singapore, semacam template bagi Singaporean cab driver (bukan yg immigran ya) untuk nanya; darimana, berapa lama, nginep dimana, mau ngapain etc etc…trus biasanya diakhiri dengan small talk perbandingan 2 negara, pandangan politik dunia, safety tips, tips belanja. bayangkan kalo yg ditanya adalah suicide bomber. filter itu sudah diketahui dari mulai transportasi. lebih baik dari imigrasi karena ada pembicaraan, ada tatap muka dan ada last known address/sightings.

template tadi bukan kebetulan. it was by design mapped in their hospitality manners untuk seperti itu, militaristic style. inilah sepertinya pelatihan bela negara sesuai profesi. follow up dari cerita tadi, biasanya jika ada gerakan yang mencurigakan, si driver tadi akan lapor ke pihak yang berwenang. this is instinct yang ditanamkan juga dalam pelatihan militer. yang jelas pembelaan mereka terhadap negaranya tidak diragukan. sudah pasti apapun atau siapapun yang diduga akan merugikan negara pasti dilaporkan. colaborative intel. anybody can be a spy.

bayangkan jika personel public space (pelayan, satpam, ojek, taxi etc) memiliki manners dan instinct yang sama,mungkin urusan bom dan penembakan hari ini gak perlu terjadi.

turut berduka cita.


travel. ride.

because I need to travel
some goes far
some in the state of mind
some say its the journey
some say its the destination
I say fvk’it
lets travel.lets ride.

we prefer by 2 wheels
intermitted by planes and trains and buses and feris
but we travel. we ride.

with small batch of good friends in the middle of nowhere
or on the valley’s winding road
or beachside stretches
lets travel. lets ride.

View on Path