Monthly Archives: September 2013

dilema urusan transport

#dilematransport

ini masalah pribadi sebenernya, ini soal pilihan ‘kaki’ dalam berkegiatan di Jakarta. hanya saja gue tertarik untuk share apa yang menjadi concern. mudah-mudahan ada yang sepaham nih

tadinya gue berusaha mendefinisikan kategori jenis kendaraan, konsumsi bbm, plus dan minusnya dalam ukuran Rupiah. tapi sepertinya akan gue simpen untuk lain kali saja. kali ini kita cari yang paling murah dengan ukuran harga akuisisi, konsumsi bbm dan biaya parkir di daerah scbd. gue juga berasumsi dalam satu hari akan jalan kurang lebih 20 km, dengan hitungan cilandak-scbd adalah 10km.

 

mari kita mulai asumsi berikut:

1.  jika ingin menggunakan mobil pribadi dan beli dari baru, kurang lebih harus menebus di angka  Rp 200jt-an. jadi kurang lebih cicilan per bulan sekitar Rp12jt-an untuk kredit 1 tahun. artinya beban cicilan per hari Rp 400rb-an. bbm jelas kudu pertamax dengan harga Rp10.000 per liter dan konsumsi per hari 3 liter (asumsi konsumsi bbm mobilnya di angka 1:7) jadi total biaya bbm adala Rp30rb. parkir area SCBD sekitar 30rb-an per hari.

total: Rp 460.000 per hari – tinggi ya? ya itulah biaya-nya punya kendaran pribadi.

 

2. jika ingin opsi lebih murah, beberapa rekan memilih memiliki motor. dengan asumsi harga motor Rp15jt-an maka cicilan per bulannya jatuh di angka Rp 1,2jt-an untuk kredit 1 tahun. maka Rp 40rb-an beban cicilan per hari. untuk bbm, 1 ltr cukup untuk 3 hari jadi beban per hari adalah Rp 3.000,-. biaya parkir sekitar 10rb-an per hari

total = Rp 53.000 per hari – jauh dari opsi 1 yah? tapi mungkin ketika hujan atau kondisi badan sedang tidak fit akan menjadi masalah.

 

3. bagaimana dengan taksi? memang saat ini tarif amat beragam. kita ambil tarif taksi yang bukan bertarif premium. untuk biaya flagfall sekitar Rp6-7rb-an. tarif per km adalah Rp3000-3600. sekali jalan 10km berbiaya kurang lebih Rp 43.000.

total = Rp 86.000 per hari – lumayan ya? dapet shelter ketika hujan dengan biaya yang tidak jauh dengan punya motor. lumayan bisa jadi backup ketika motor sedang servis atau sedang ada trouble.

 

4. ada opsi lain yang termurah (kadang mahal juga kalo lagi diketok) OJEK!. tanpa komitmen dan service yang jelas, benar-benar tepo seliro ala Indonesia. sekali jalan +/- Rp30rb

total = Rp 60.000 per hari – gak jauh dari punya motor yak?

 

5. ada opsi terkahir, bangun kayak motor gue 1976 Honda C70. harga motor Rp 3jt; biaya restorasi Rp 5jt; kalo di spread 1 tahun maka beban per hari adalah Rp 22rb-an. bbm sama dengan poin 2: Rp 3rb/hari. parkir standard Rp10rb-an.

total:  Rp 35.000 per hari – ini dead cheap, great to ride, convo starter, build sympathy dan bangunnya juga menyenangkan sayang attitude yang beresin “kek perek pantura”.

IMG_6977

Advertisements

eat less, move more

Masih ingat pak Subroto? bekas Mentri Energi dan SDM jaman Pak Harto? pernah juga menjadi Sekjen OPEC di jaman keemasan Indonesia. nah, kebetulan hari ini saya diundang untuk menghadiri acara makan siang syukuran hari ulang tahun beliau.

untuk seorang yang berumur 90 tahun beliau amat sangat luar biasa, masih bisa berdiri di depan tanpa text dan bicara filosofis.

dia mulai dengan pertanyaan semua orang: “apa rahasianya bisa hidup 90 tahun pak?”

dia menjawab bahwa ada 4 dimensi yang dia berusaha seimbangkan. dimensi spiritual, hubungan kita dengan sang maha kuasa dan alam semesta. dimensi intelektual, hubungan kita dengan pengetahuan dan sains. dimensi mental, kesabaran dan ketabahan diri kita sendiri dan terakhir dimensi fisik, beliau bicara tentang olahraga.

dalam hal ini beliau melandasi seluruh keseimbangan tersebut dengan rasa bersyukur. bersyukur akan teman-teman yang amat sangat perhatian dan bersyukur akan teman hidup seperti bu Ratih 🙂 aww….

di membacakan sebuah cuplikan quote dari Nelson Mandela di tahun 1998: “…late in my life, I am blooming like a flower because of  the love she has given me”

he is the sweetest 90-yrs-old i’ve ever seen.

selain keseimbangan 4 dimensi tadi, beliau juga memberikan wejangan tentang apa arti makan bagi kita. beliau pada intinya bilang makanlah pada waktu lapar. lapar fisik! bukan lapar emosional dan jangan lupa berhenti sebelum kenyang. it’s not what to eat but how to eat, beliau bilang.

karena di awal beliau menyebutkan soal keseimbangan, beliau juga bilang soal ‘gerak terus’. gerak ini bukan hanya olahraga, tapi gerak dalam arti pemikiran dan ide ke arah yang positif membangun. kuras energi fisik dan mental.

selanjutnya beliau bilang: “eat less and move more”. this is devine! we need to spread this around. yang paling membuat hadirin heboh adalah ketika dia berteriak: “jangan ngerokok!” hahaha. awesomeness!

selanjutnya beliau mention salah satu percakapan dengan direktur di kantor ketika dia masih menjabat sebagai komisaris. pernah suatu ketika, kantor sedang memghadapi keputusan yang sulit. seluruh keputusan telah bulat dibuat dan sang direktur pun bicara ke hadapan para komisaris “the decision has been made, and we hope for the best”. semerta Pak Broto bilang ” Lukman, bukan hope for the best, tapi plan for the best and prepare for the worst” *jleb. beliau juga mention semua yg membuat perencanaan angka adalah pembohong. even if he said the truth he still a liar. *lebih jleb lagi

terkahir, beliau berbicara apa sih yang diharapkan dari orang tua dari yang muda-muda? beliau mention 3 hal:

– sembur : memberi semangat dan spiritual elevation

– sawur : seed atau bekal untuk memulai, istilah modernnya mungkin seed funding untuk startup. ya become an angel investor lah.

– tutur : kata dan perilaku yang bijaksana yang memberikan pagar2 batas sosial.

karena pada akhirnya  manusia memiliki tujuan. beliau mebahasakannya dengan istilah orang Jawa, tujuan manusia ada 3 hal juga:

– sepuh: bukan berarti tua dan renta, tetapi memiliki kualitas dalam bicara dan bertutur.

– wutuh: bukan cacat fisik tapi, tidak bercacat dalam laku

– tangguh: bukan berarti menjadi ksatria tapi berpribadi yang kuat,berpendirian, convincing masyarakat apda umunya. jika kita orang Indonesia maka sudah sewajarnya kita kembali ke Pancasila.

*N-A-S-I-O-N-A-L-I-S-M-E

setelah 30 menit berlalu, beliau tutup dengan:

“I can not give you the formula of success, but I can give you the formula for failure: don’t try to please everyone.”

thank you pak Broto, that was the best 30 minutes of my life.

IMG_6940

IMG_6941


bagaimana caranya untuk tidak egois

13sep2013 0505

‘Ron, udah denger bapaknya Anies meninggal?’ begitu bunyi WA dari mas Wid

agak kaget gue, karena minggu lalu dia berkunjung ke Jogja mengunjungi bapaknya dan terdengar kabar bahwa kondisi membaik. tapi gue gak akan bahas itu disini.

yang ingin gue bahas bagaimana aktivitas gue hari ini bubar karena gue tiba-tiba kudu ngawal dia dan keluarga ke Jogja.

13sep2013 0634

ada telpon dari pihak keluarga, yg intinya bilang tolong bantu mas Anies ke Jogja with all means necesary. singkat cerita, gue kudu make sure bahwa flight prep, airport permits, crew etc stand by dalam 1 jam. dalam keadaan normal, seluruh proses ini memerlukan waktu 3-4jam. fak. gue butuh all the strength and wizardy yg biasa gue punya. ahaha.

setelah make sure semua on process, gue telpon ybs untuk bilang bahwa dia dan keluarga kita tunggu di tempat keberangkatan secepatnya. ini jam jam gue resah dan secara kompulsif memastikan seluruh checklist.

13sep2013 0740

akhirnya rombongan datang dan menunggu, final check in progress. disni gue mulai tenang.

dan kemudian gue mulai kebiasaan ‘buruk’ gue, mengamati orang dan dinamikanya. semenjak datang dan menunggu flight, gue perhatikan mas Anies ini tidak berhenti untuk:

  1. terima seluruh telpon bela sungkawa,
  2. menjawab dengan nada dan tone yang sama,
  3. menenangkan lawan bicara (keluarga/teman/relasi) bahwa almarhum mendapatkan yang terbaik,
  4. mengucapkan terimkasih ke semua pihak. semuanya literally.

karena kebiasaan dan rasa simpati pagi ini, gue tergugah untuk membantu dia di sisi yg lain. personal support. mulailah gue menyediakan cable extender dan usb chargers. karena tempat yg terbatas, gue giring dia untuk duduk di dekat charger.

semakin terdengar detail pembicaraan dia dengan para penelpon (asli, gak berhenti di telpon dia). semakin jelas bahwa orang ini dengan ikhlas menjawab, mendengarkan dan melayani semua orang.

gue refleksi ke diri sendiri, kalo gue di posisi itu gak mungkin gue bisa seperti itu. sangat tidak egois!

13sep2013 0820

terbanglah kita ke Jogja. di dalam pesawat, karena tidak ada signal, dia full-time bercanda dengan anak-anaknya.

pertanyaan gue dalam hati, gimana caranya memisahkan suasana hati dengan mimik muka? gue yakin pasti sedih ditinggal bapak sendiri, but at the same time bercanda dengan anak-anaknya? buat gue impossible. masih banyak harus belajar nih….

13sep2013 0903

tiba di Jogja, saya handover mas Anies dan keluarga ke pihak yang menjemput dan gue balik pulang ke Jakarta.

3 jam terakhir merupakan salah satu 3 jam terbaik dalam hidup gue. dan gue yakin gue masih harus banyak belajar…

IMG_6714


lost is universal

for the last couple of days I’ve received several news. allow me to tell just 2 stories about it.

the first

this one came from Bandung, Indonesia. I have a place where I wind out my self from Jakarta, usually I come around whenever I feel like it. this is probably my second home where it is an actual home for Ista, Asih and Jojo. one of the features of this place is that they have 4 other four-legged family members that always shout out to whoever comes in. lovely creatures they are.Barong on Cleo 2

today, I’ve received a news that one of them died of old age. it was Cleo who passed away. she was buried on the yard of this already peaceful place. interestingly, one of her buddy Barong was staying for another couple hours on top of her burial site. I guess he misses her. I never knew that friendship and affection can extend that far. I didn’t know that when I was touched with such event, my mind wanders further than it used to. I guess lost is universal.

the second

this one came from the United States. it was a posting of an email from a friend who just lost her mom. I can not rewrite that, I let you read it yourself instead. here it goes:

Dearest loved ones,

Mom passed away just after noon yesterday.  It was, as in all her life, elegant.  

Mom is being cremated, and we will be burying the ashes at the Goose Creek Friends Meeting House in the next few days.  At her request, this is family only.  There will be a Meeting for Worship that will include an opportunity for those who are local to be present either this Sunday or the first Sunday in September — Dad will send the details.

For those who want to send something, a donation to the Goose Creek meeting, the Friends of the Blue Ridge, or The Mountain Institute would be most appreciated.  Or just a nice note.  Dad says he has enough flowers in the garden.

This is my mother, so no one will be surprised that she left very specific instructions for her “Party.”   It will be at the farm sometime in late spring/early summer.  As we are able to get the details in order, we will send the invitations to come, join, share irreverent stories, wine, and the company of the excellent, beautiful, and vibrant people who shared her life and were part of her community.

I arrived from Indonesia on Saturday afternoon and I’d like to share moments of her last day with us, since so many of you were sending so much love and warmth our way, we want you to know that it was felt.  

She had been declining, and wasn’t able to speak much any more.  She had cuddled the phone while listening to her sisters voice, and we had been playing music sent to her by her nephew, his wife and their children, which made her very happy.  At her request, we had put the endless CD collection on continuous play, and music has filled the house for the last three days.  It is filling the house now.

Sunday morning, she got a phone call from her grandchildren, telling her they loved her.  Her eyes lit up and she smiled. 

Sunday afternoon, two of her dearest friends came and sat with her on her bed.  Her bright big blue eyes smiled.  They chatted and laughed while she listed and murmured her contribution.  Mom even managed to slip a gifted bracelet onto her wrist.  It was a beautiful afternoon. 

Dad and Kaile and I had dinner together — a yummy soup made and brought for us by another close friend — and then were joined after by a dear friend of Kaile’s from high school.  He brought his guitar, and played music and sang for us in mom’s room.  She was smiling and restful.  “Country Roads” was a big hit, one of mom’s favorites.  Kaile and I sang along.  The grace in that room that night was something tangible.  It was, as he said, like watching mom turn into light before our eyes.

That night the hospice nurse stayed with her, and we slept.  In the morning, a white fog covered the farm.  It slowly turned golden as the sun came up, and mom’s breathing became more labored.  The nurse left, planning to return late in the afternoon, and we went down for lunch, tucking a teddy bear given by a dear friend in next to mom to keep her company while we were downstairs.

When we came back up, she was gone.  As we had been told, people often wait until their loved ones are out of the room to finish passing.  A final act of generosity.

So many of you have sent so much love to her and to us, please know we’ve been carried by that as we walked with her on this journey, and are being held in it still.

Kaile’s husband Vince and their kids arrived last night, and we’ll all be here about a week talking long walks, washing the dog (who rolled in something particularly stinky to express her opinion of the whole thing), and getting things in order. After a beautiful weekend we woke up to rain on the roof, which feels about right.

I had asked before to please share good/happy/silly (and even sad) news – please continue to do so.  Mom took such joy in knowing about everything in life, and was so amazing at keeping touch.  Please forward this to those I may have forgotten. 

She was my mother, my friend, my mentor, my editor, my advisor, and now she is the voice in my head.

Much love — Kaitlin

the moment I finished reading it. my mind also wander further. gets me thinking of what am I going to left behind. I guess lost is universal.

 

note:

here’s a link to the letter above.