selera

Beberapa saat yang lalu saya pernah mendengar salah satu pejabat di kepolisian mendapatkan masalah karena urusan jual beli nomor kendaraan.

sejenak saya berpikir urusan plat nomer ini sebenarnya sepele. tapi jika dikelola dengan baik sebetulnya bisa jadi bisnis yang menarik

saya rasa soal ini, publik jangan marah. kalo marah karena gak dapet jatah bisnis ya itu masalah lain. tapi kalo marah dengan aturan yang berlaku dianggap tidak adil, ya ini bisa kita bahas.

peraturan itu bukan kitab suci yang sifatnya mutlak. ini kan masih bisa kita diskusikan.

soal ini, saya ingin cerita pengalaman saya di Australia circa 95-96. ketika masa kuliah, saya menabung untuk bisa beli mobil sehingga bisa ada transportasi untuk kerja.

tapi berhubung manajemen cashflow amat sangat warungan, saya akhirnya cuma bisa menabung kurang lebih sekitar 3600 AUD (sekitar Rp 7jt an).

selain di dealer mobil murah, opsi lain dengan budget segitu adalah junkyard. yang kenal gue dari kecil tahu lah pilihannya kemana….

akhirnya pilihan jatuh ke mobil kelahiran tahun 1971 yang sudah dalam keadaan buruk tapi masih bisa jalan. berkat bantuan teman-teman disana, mobil ini kembali dalam keadaan prima.

mre926andme

saking kerennya (ehm), pernah mobil ini diminta untuk mewakili  parade Vintage Cars Australia. anyway, poinnya adalah saya dikomporin untuk custom mobil saya mulai dari bentuk sampai plat nomor.

nah disini saya baru sadar bahwa ternyata pemerintah Australia mengakomodir kebutuhan masyarakat yang menginginkan kendaraannya di spesialkan, tidak hanya sebagai tanda nomor kendaraan.

tidak murah biaya yang saya keluarkan. per tahun saya diwajibkan membayar iuran AUD 300 atau setara dengan Rp 600 rb an.

nah, silahkan berhitung bila skema yang sama diaplikasikan di Indonesia negara dengan 240 jt orang dan memiliki presentasi ‘horang kayah’ dengan gengsi yang lumayan tinggi. ha!

intinya sih gini, kalo emang bisnis bagus kenapa tidak di legalkan saja sebagai salah satu sumber pendapatan pihak yang berwenang. gak ada salahnya punya usaha asal bukan pihak regulator aja yang buat. kalo udah ada regulasinya kan bisa ada pajaknya. nah! income kan?

v 1971monggo, ini sumbangsih pemikiran saya buat negara.

ini sih masalah selera, kalo emang appetitenya besar harusnya bisa besar juga. hehe.

Advertisements

About pramaditia

roni.pramaditia@gmail.com View all posts by pramaditia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: