Monthly Archives: August 2013

dipanggil dewa

ini bukan entry tentang pemujaan atau kematian. sebaliknya tulisan kali ini mengenai hidup.

entry ini saya tulis sehabis Seringai membawakan lagu Indonesia Raya. buat kalian yang ada disekitar saya, ini urusannya lebih dari harga tiket, ini GBK! kita mau nonton Metallica! dan barusan abis nyanyi Indonesia Raya!

merahputih

anjis ieu mah getih urusana!

soncekdua malam sebelumnya memang gue ada disini. ikut Seringai soundcheck lah ceritanya. it was surreal. ada diatas panggung tersebut emang edan sebenernya.

tinggi, anginnya kenceng dan suara terbaik untuk mendengarkan musik ya memang diatas panggung ­čÖé

waktu malam itu hanya ada crew dan engineer saja yang ada diatas panggung, tapi tetep aja mereka adalah orang-orang yang dipercaya para dewa untuk manggung.

bisa gue lihat sendiri mereka amat profesional.

got nothing to say, lagu pertama sudah mulai nih….

am just glad am here. alive and well.

IMG_6358

*foto Metallica Merah Putih gue update setelah acara.

 

Advertisements

selera

Beberapa saat yang lalu saya pernah mendengar salah satu pejabat di kepolisian mendapatkan masalah karena urusan jual beli nomor kendaraan.

sejenak saya berpikir urusan plat nomer ini sebenarnya sepele. tapi jika dikelola dengan baik sebetulnya bisa jadi bisnis yang menarik

saya rasa soal ini, publik jangan marah. kalo marah karena gak dapet jatah bisnis ya itu masalah lain. tapi kalo marah dengan aturan yang berlaku dianggap tidak adil, ya ini bisa kita bahas.

peraturan itu bukan kitab suci yang sifatnya mutlak. ini kan masih bisa kita diskusikan.

soal ini, saya ingin cerita pengalaman saya di Australia circa 95-96. ketika masa kuliah, saya menabung untuk bisa beli mobil sehingga bisa ada transportasi untuk kerja.

tapi berhubung manajemen cashflow amat sangat warungan, saya akhirnya cuma bisa menabung kurang lebih sekitar 3600 AUD (sekitar Rp 7jt an).

selain di dealer mobil murah, opsi lain dengan budget segitu adalah junkyard. yang kenal gue dari kecil tahu lah pilihannya kemanaÔÇŽ.

akhirnya pilihan jatuh ke mobil kelahiran tahun 1971 yang sudah dalam keadaan buruk tapi masih bisa jalan. berkat bantuan teman-teman disana, mobil ini kembali dalam keadaan prima.

mre926andme

saking kerennya (ehm), pernah mobil ini diminta untuk mewakili  parade Vintage Cars Australia. anyway, poinnya adalah saya dikomporin untuk custom mobil saya mulai dari bentuk sampai plat nomor.

nah disini saya baru sadar bahwa ternyata pemerintah Australia mengakomodir kebutuhan masyarakat yang menginginkan kendaraannya di spesialkan, tidak hanya sebagai tanda nomor kendaraan.

tidak murah biaya yang saya keluarkan. per tahun saya diwajibkan membayar iuran AUD 300 atau setara dengan Rp 600 rb an.

nah, silahkan berhitung bila skema yang sama diaplikasikan di Indonesia negara dengan 240 jt orang dan memiliki presentasi ‘horang kayah’ dengan gengsi yang lumayan tinggi. ha!

intinya sih gini, kalo emang bisnis bagus kenapa tidak di legalkan saja sebagai salah satu sumber pendapatan pihak yang berwenang. gak ada salahnya punya usaha asal bukan pihak regulator aja yang buat. kalo udah ada regulasinya kan bisa ada pajaknya. nah! income kan?

v 1971monggo, ini sumbangsih pemikiran saya buat negara.

ini sih masalah selera, kalo emang appetitenya besar harusnya bisa besar juga. hehe.


tentang Jepang

seharusnya blog entry ini di bulan july pas setelah pulang dari jepang. tapi apa daya, setelah pulang langsung disibukkan dengan segala macam acara ramadhan dari satu bukber ke bukber lainnya. sudah lama gue dan keluarga ingin ke Jepang. 2 tahun yang lalu, visa sudah terbit dan tiket sudah issued, tetapi karena proses booking akomodasi terhambat maka rencana ke jepang kami batalkan. akhirnya tanggal 9-18 July kemarin kita sekeluarga berhasil berangkat. destination: TOKYO

urusan bini dan anak-anak sih gak jauh dari disney, akihabara, shinjuku dan harajuku. kalo gue punya urusan lain: GUNDAM, ramen dan bir lokal. nuhun Gusti Nu Agung, semuanya hadir!

IMG_5666 IMG_5748 IMG_5770 IMG_5772 IMG_5795 IMG_5802 IMG_5806 IMG_5814 IMG_5822

 


pesan lebaran

hari ini kita ngantor. walaupun masih sepi, cukup banyak rekan-rekan yang masih ada di ibukota. rencananya, kita diundang semua untuk habilan bersama para petinggi. biasanya, pesan-pesan di acara besar ini menarik. mari kita simak.not us

pesan pertama dari preskom. beliau bercerita tentang bagaimana perusahaan baik cerminnya ada di masyarakat bukan di annual report.

contohnya beliau alami sendiri. begini ceritanya, ketika bulan puasa kemarin, dia sedang berjalan-jalan dengan anaknya ke sebuah tempat supplier di bilangan fatmawati.

ketika akan bayar sang penjual bertanya “pak bon-nya mau yang kosong?”. spontan beliau tolak. kemudian sang penjual menjelaskan bahwa biasanya sebagian besar perusahaan yang belanja di tempatnya minta double bon. supaya ada margin ­čÖé

sang penjual pun melanjutkan dengan menyebutkan dengan detail perusahaan-perusahaan mana yang sering minta bon extra. surprisingly, dia menyebutkan bahwa perusahaan tempat kami bekerja TIDAK PERNAH minta. fyi, sang penjual tidak tahu dimana preskom kami bekerja. menurut beliau, ini adalah indikator kepercayaan publik terhadap perusahaan.

ini adalah hal yang simple tapi amat sangat berpengaruh terhadap kepercayaan pemegang saham. hal-hal kecil seperti ini yang tidak ada di annual report tapi penting untuk diketahui. apakah kita harus buat report resmi?gak perlu. jadi apakah ini materi social media untuk kantor? i don’t think so either.

not thempesan berikutnya dari founder. beliau dengan santai bicara soal mentalitas.

fyi, beliau seorang kolektor lukisan yang koleksinya sangat desirable.

ceritanya begini. dia pernah memberikan sebuah lukisan kepada sebuah perusahaan drilling oil yang ketika itu masa kontrak kerjasamanya sudah habis. lukisan tsb diterima oleh CEOnya ketika itu.

dalam kesempatan terpisah, pernah juga sebuah lukisan disumbangkan ke sebuah kantor kbri di sebuah negara eropa. alasannya? ‘ini kedutaan Indonesia di eropa, lukisan tentang Indonesianya jangan yang jelek dong’

setelah beberapa tahun, beliau datang kembali ke kantor dilling company tadi. ternyata lukisannya sudah menjadi property perusahaan dan dipajang disalah satu kantor mereka di luar negri. this is impressive, mereka menghargai sebuah penghargaan dan mengakuinya sebagai aset perusahaan. superb!

apa yang terjadi dengan lukisan di kbri tadi? dibawa balik ke jakarta sama dubesnya karena masa tugasnya sudah habis. ha!

ini masalah mentalitas. harusnya bisa membedakan antara aset perusahaan dan aset pribadi.

this is, imho, the core for eradicating corruption.

terakhir dia bilang:
semua harus mencontohkan!

simple yet one of the hardest to apply.