kenapa (untuk beberapa hal) kita harus belajar dari Malaysia.

selama saya berkunjung ke Malaysia di awal Juni 2013. saya menemukan beberapa hal yang saya rasa kita harus pelajari dan terapkan di tanah air. here it goes.

taat peraturan.

beberapa kali saya melihat para bikers yang terlihat sangar dan terlihat tidak taat hukum, malah sangat menghormati keputusan petugas dan pengguna jalan lainnya. ini terjadi karena aturannya jelas dan mereka mengerti apa hak dan kewajibannya jika mengikuti aturan. yang jelas semua pengguna jalan dilindungi oleh hukum.

beberapa kejadian di Indonesia malah kadang sebaliknya. pengendara yang sekilas terlihat orang ‘ada’, malah sering dianggap arogan dan yang pernah terbukti melanggar hukum justru malah kadang tidak tersentuh oleh hukum. ini aneh nih. cuman karena (terpaksa) terbiasa, masyarakat hanya bisa menghujat, mendoakan mungkin malah ada beberapa yang toleransi dan mungkin bangga akan hal ini.

saya yakin ini bukan karena kita orang Indonesia-nya yang punya mentalitas seperti ini, tapi karena law enforcement kita sangat lemah dan cenderung untuk tidak memiliki wibawa.

masalahnya mungkin dengan penduduk sepadat ini tidak ada kebijakan untuk membatasi dan memfasilitasi jumlah kendaraan roda 2. and that’s coming to my second point.

motor boleh masuk tol.

dalam perjalanan ke dan dari KLIA, taxi kami melewati jalan bebas hambatan berbayar dan surprisingly, kendaraan roda 2 boleh masuk TOL. kebetulan saya tidak melihat motor besar, hanya motor kelas bebek 100-125cc yang wara-wiri saat itu. saya perhatikan mereka selalu berada di jalur paling kiri dan tengah dan hanya mengambil jalur paling kanan untuk take over. beradab sekali!

argumen saya: apakah roda 2 diizinkan masuk tol karena beradab? atau diizinkan masuk ke tol sehingga beradab? jawaban saya cenderung memilih ke yang terakhir, saya percaya jika diberi kesempatan dan ruangan, masyarakat akan merubah mentalitas. mulai dari para pejabatnya of course 🙂

untuk dapet plat nomer gak susah

pelajaran berikutnya adalah masalah plat nomer, banyak sekali rekan-rekan disana yang mengimpor mesin geluntungan dan membangun motor/mobilnya dari scratch. ajaibnya (dibandingkan Indonesia) kendaraan mereka bersurat! fakk gimana caranya?

secara garis besar sangat sederhana. ketika memasukan mesin, importir wajib untuk menyertakan spesifikasi mesin tersebut dalam dokumen import mereka seperti tahun pembuatan, kapasitas, jenis bahan bakar, etc. setelah dirakit dan dijalankan, kendaraan wajib melewati uji emisi dan safety. uji emisi ini pun sama seperti uji emisi di tanah air. uji safety sedikit lebih kompleks, ada pengujian akselerasi dan pengereman yang berjenjang. detailnya akan saya bahas di kesempatan berikutnya. setelah seluruh persyaratan ini dilengkapi, ada sebuah formulir yang harus diisi (dilampirkan hasil uji diatas) dan setelah beberapa hari registrasi beserta nomer kendaraan akan dikirimkan ke alamat kita. untuk plat nomer pun terbuat dari berbagai media, bisa plat besi/resin dan bisa juga sticker sehingga aplikasinya dapat disesuaikan dengan kondisi kendaraan. gampang anjis! kenapa kita gak bisa kayak gitu sih?

bisa travelling ke negara lain tanpa masalah yang berarti

ini juga jadi pelajaran. kami menemukan ada sepasang wisatawan dari Belanda yang spend selama 6 bulan riding dari Vietnam, Laos, Cambodia, Thailand dan Malaysia. nah! this is living. dan coba tebak motor apa yang mereka pakai? Honda Win!

karena penasaran, saya menayakan kenapa mereka memakai Honda Win. mereka jawab, Honda Win adalah motor yang banyak diproduksi di Asia tenggara sehingga jika terjadi satu dan lain hal, hampir semua bengkel motor di Asia Tenggara dapat mengatasinya. Logis.

pertanyaan berikutnya adalah tentang travel documents. mereka bilang perbatasan di asia tenggara emang kadang rese, tapi mainly karena mereka wisman dari Eropa sehingga diasumsikan banyak duit. ini mah urusannya korupsi. haha! tapi secara luas, mereka menyatakan bahwa perbatasan tiap negara aman dan travelling dari satu negara ke negara yang lain tidak menimbulkan masalah yang berarti document wise.

bawa barang promosi bisa dapet resi pajak

nah ini sebenernya tips buat yang lagi mau promo. karena kepergian ke Malaysia kali ini adalah urusan toko, jadi otomatis kita bawa barang promo. di imigrasi KLIA ketentuannya sederhana, jika membawa barang untuk keperluan promosi maka pajaknya di imigrasi adalah 10% dari production cost. jika kita bayar, jangan lupa meminta tanda bukti bayar pajaknya. saya harus akui, mereka cukup disiplin untuk memberikan resi pajak.

lain halnya ketika kita kembali membawa barang sisa promo kembali ke tanah air. mereka meminta surat keterangan bahwa barang tersebut dibuat di tanah air. otherwise mereka minta pajaknya di tempat. ya jelas gak ada, lha wong baru tahu ketika datang. salah sendiri sih kenapa gak nanya yang pengalaman. tapi gak ada yang bisa saya tanya juga soal ini. <- indikasi wawasan kurang nih. jadinya ya saya bayar di tempat. gak ada buktinya sih. jadi ya anggap aja saya asbun. fuckers.

nah yang terkahir adalah sebuah pertanyaan untuk membuktikan betapa besarnya market di tanah air. kalo petronas, shell dan total bisa masuk jakarta, kenapa pertamina gak ada di kuala lumpur?

Advertisements

About pramaditia

roni.pramaditia@gmail.com View all posts by pramaditia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: